RSS

Sabtu, 16 April 2011

Hujan : Syukur atau Kufur

        Disuatu siang dengan rintik-rintik hujan membasahi bumi ini, suara azan bersahut-sahutan seantero kota Depok, waktu itu Ahmad akan menunaikan sholat zuhur berjama'ah di Mesjid Ukhuwah Islamiyah Depok, setelah azan berkumandang, tak lupa Ahmad sholat sunnah qabliyah zuhur dua rakaat. Ketika selesai salam kedua, assalamu’alaikum warahmatulahi wabarakatuh, secara tidak sengaja Ahmad mendengar percakapan antara dua orang tua, bapak pertama berkata “hujan mulu ya…nggak berhenti-henti” dengan nada kesal , lawan bicaranya pun menanggapi perkataan tersebut “iya nih, dari subuh tadi lagi…”.
        Apa yang terlintas dibenak kita bersama? Setelah membacanya, apa yang bisa anda mengerti dari penggalan cerita di atas? (atau tidak ada yang terlintas sama sekali, hehehehe…). Bingung ya? sebenarnya yang dibicariin yang mana sih?. Begini teman-teman, yang ingin saya angkat adalah perkataan antara dua orang bapak-bapak tersebut. (nah, sekarang udah nyambung kan? ). Setelah membaca ulang kembali percakapan tersebut, mungkin ada diantara kita menjawab “emangnya penting ya yang dibicariin mereka berdua” atau mungkin “biasa aja kali ya.. mereka ngomong kayak gitu”.
Teman-temanku yang dirahmati Allah, selama ini mungkin kita tidak sadar bahwasanya banyak hal-hal yang kecil, yang tidak kita acuhkan, banyak perkataan-perkataan biasa, obrolan-obrolan ringan seperti di atas yang hanya kita remehkan. Padahal karena hal-hal yang kecil itu banyak diantara kita jatuh, banyak karena perkataan-perkataan yang katanya tak penting itu, Allah mencabut nikmat untuk hambaNya. Seperti cerita di atas, coba baca apa yang dikatakan oleh bapak pertama tadi, bapak tersebut mengeluhkan hujan yang tidak berhenti-henti, begitu juga dengan lawan bicaranya. Mungkin kita juga pernah berkata begini, ketika hujan turun, “ya…hujan lagi” atau “astagfirullah, hujan…” Sambil menggeleng-gelengkan kepala.
         Teman-temanku yang dirahmati Allah, tidakkah kita sadar selama ini kita telah menganggap nikmatnya itu sebagai musibah, kenapa kita mengeluhkan sesuatu yang itu merupakan rezeki dari Allah subhanahuwata’ala, tidakkah kita pernah memujiNya jika hujan turun. Allah berfirman “…dan Dialah (Allah) yang menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dia hasilkan dengan (hujan) itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu… Q.S Al Baqarah: 22, dan masih banyak ayat-ayat lain yang ngomongin hal demikian. Marilah kita renungkan ayat di atas, apakah karena ini Allah tidak lagi menurunkan hujan bagi hambaNya sebagai nikmat? apakah karena ini Allah tidak lagi menurunkan hujan sebagai rezeki (tanaman)? apakah karena ini Allah menurunkan hujannya sebagai bencana atau azab bagi hambaNya? 

          Teman-temanku, oleh karena itu, marilah kita intropeksi diri kembali (terutama untuk penulis), sebenarnya siapa yang salah selama ini, siapa yang telah menolak nikmat dari Tuhannya yang Maha Pengasih. Apakah kita mengkufuri nikmatNya yang besar ini? Siapa yang telah menggunakan lisannya untuk menghina makhluk Allah. Coba kita buka Mushaf dan cari surat Ibrahim ayat 7 juga, yang mungkin sudah kita hafalkan, Allah ‘azzawajalla berfirman “apabila kamu bersyukur (atas nikmatKu) maka akan Kami tambah nikmat itu, dan jika kamu kufur terhadap nikmatKu, sungguh azabKu sangat pedih”. Juga ayat yang sering diulang-ulang dalam surat Ar Rahman “maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Wallahu a’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar